MediaSuaraMabes, Agam – Jembatan yang menjadi akses utama menuju Sekolah Dasar Negeri (SDN) 19 Jorong Lurah Dalam, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, secara sepihak dihancurkan oleh oknum Ninik Mamak tanpa melalui musyawarah mufakat atau berkoordinasi bersama masyarakat apalagi dengan pemerintah setempat.
Akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut membuat akses perjalanan anak-anak sekolah terganggu dan sangat membahayakan keselamatan mereka, sekaligus menimbulkan kerugian serta kekhawatiran bagi seluruh warga sekitar.
Masyarakat yang berada di lokasi saat kejadian hanya bisa menyaksikan dengan berdiam diri karena takut dan merasa tidak berani untuk menghalangi tindakan oknum tersebut, ungkap warga
Kami tidak berani menghentikan apalagi berkata kata tindakan oknum tersebut dan hanya pasrah, meskipun kami tahu jembatan tersebut Aset negara, ungkap warga yang menyaksikan
Menurut beberapa saksi mata, proses penghancuran dilakukan dengan menggunakan martil dan hanya menargetkan satu jembatan saja.
Atas ulah oknum tersebut membuat masyarakat heran dan bertanya kenapa tiga jembaran lainnya yang berada di satu kawasan aliran sungai pasca banjir Desember 2026 lalu di Kenagarian Pasia Laweh lainnya yang dilalui banjir tidak dirusak kalau alasannya akan menggenangi rumahnya.
Kondisi ini semakin membuat warga bertanya-tanya mengenai tujuan sebenarnya dari penghancuran yang tidak seharusnya dilakukan.
Salah seorang civitas SDN 19 Jorong Lurah Dalam mengaku sangat cemas dan khawatir melihat kondisi akses sekolah yang terganggu dan tidak mau ikut campur apalagi berpolemik terkait diruntuhkqnnya jembatan.
“Kami sangat mengandalkan jembatan tersebut sebagai jalur utama bagi siswa yang setiap hari harus melalui lokasi ini untuk datang ke sekolah. Dengan kondisi seperti ini, kami khawatir akan ada risiko kecelakaan yang mengancam keselamatan anak-anak kami,berharap segera dibangun kembali” ujarnya dengan nada prihatin.
Ia juga sangat berharap pemerintah maupun masyarakat serta pihak lainnya dapat segera membantu dan mengambil langkah konkret untuk menangani permasalahan ini.
Pengurus Komite SDN 19 Lurah Dalam yang dihubungi tidak bersedia merespon tim, hanya fokus bersama masyarakat dan pihak sekolah menyediakan alternatif akses berupa titian sementara yang dibuat dari batang pinang dan kayu papan seadanya mengingat sudah ada anak murid yang terjatuh dan terpleset.
Meskipun dapat digunakan, titian tersebut tidak memiliki struktur yang kuat dan tidak dirancang untuk digunakan secara terus-menerus oleh banyak orang, terutama anak-anak yang masih dalam usia sekolah.
Kondisi ini membuat perjalanan ke sekolah menjadi lebih sulit dan memakan waktu dari biasanya, apalagi saat debet air besar sangat menghawatirkan.
Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya mengenai akses dan keselamatan, tetapi juga berdampak pada aktivitas sehari-hari masyarakat sekitar.
Dengan tidak adanya jembatan yang layak digunakan, mobilitas anak sekolah dan masyarakat menjadi terbatas dan terganggu.
Masyarakat Nagari Pasia Laweh mengajak semua pihak terkait, terutama pemerintah daerah dan instansi berwenang, untuk segera melakukan penyelidikan terkait penghancuran jembatan tersebut serta mencari solusi permanen bagi akses sekolah dan aktivitas masyarakat.
Warga berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali dan dapat ditemukan klarifikasi mengenai alasan oknum tersebut melakukan tindakan yang meresahkan ini.
Sementara Pihak kecamatan yang dihubungi menyatakan akan melakukan survei dan investigasi mendalam di lapangan atas informasi terkait keresahan warga karena ulah oknum yang main tindakkan sendiri.
Rismawati, Ketua Lembaga Aspirasi Masyarakat Indonesia (LAMI) Sumbar menyayangkan sikap dan perilaku dari oknum tersebut dengan merusak aset negara tanpa berkoordinasi dan konsultasi terlebih dahulu, hanya karena banjir akan masuk ke rumah yang bersangkutan.
Rismawati juga meminta kepada aparat hukum untuk menyelidiki dan menindak lanjuti kejadian ini sehingga tidak terjadi hal yang sama di kemudian hari yang mengakibatkan kemananan dan kenyamanan murid sekolah dan masyarakat terganggu.
(FK/TIM)
