MediaSuaraMabes | Bogor — Momentum kemerdekaan hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial dengan pengibaran bendera, perlombaan, maupun berbagai kegiatan peringatan lainnya. Kemerdekaan merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang harus disyukuri melalui karya, pengabdian, peningkatan kualitas diri, serta membangun sumber daya manusia yang unggul, beriman, dan bertakwa.
Pesan tersebut disampaikan DR. KH. Khoirul Huda Basyir, Lc., M.Si., dalam khutbahnya di Masjid Darussalam, Kota Wisata, Bogor. Dalam khutbah yang berlangsung khidmat, beliau mengajak jamaah untuk terus meningkatkan kualitas iman, ilmu, dan amal saleh sebagai bekal kehidupan dunia sekaligus persiapan menuju akhirat.
“Marilah kita terus meningkatkan kualitas iman dan amal saleh. Insya Allah, semuanya akan menjadi bekal hidup kita, baik selama berada di dunia terlebih untuk kehidupan akhirat nanti,” pesan beliau.
Kemerdekaan Adalah Nikmat Allah yang Harus Disyukuri
KH. Khoirul Huda Basyir menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Perjuangan para pahlawan melalui pengorbanan, perjuangan fisik, diplomasi, dan kerja keras para tokoh bangsa merupakan bagian dari ikhtiar manusia. Namun, di balik seluruh perjuangan tersebut terdapat kehendak dan pertolongan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
La’in syakartum la’azīdannakum, wa la’in kafartum inna ‘adzābī lasyadīd.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7).
Menurutnya, syukur atas kemerdekaan tidak cukup hanya melalui ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata: membangun bangsa, meningkatkan kualitas manusia, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kemerdekaan Harus Membebaskan Manusia
Mengutip pemikiran Sayyid Qutb dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Fatihah ayat 5, KH. Khoirul Huda Basyir mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menjadikan hawa nafsu maupun sesama manusia sebagai sesuatu yang diperhambakan.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn.
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
Kemerdekaan sejati, menurutnya, bukan hanya terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga terbebas dari kebodohan, ketergantungan, hawa nafsu, dan berbagai bentuk penghambaan kepada selain Allah SWT.
Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri
KH. Khoirul Huda Basyir juga mengingatkan bahwa perubahan besar harus dimulai dari perubahan diri. Kemudian berkembang kepada keluarga, lingkungan, masyarakat, hingga bangsa dan negara.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Innallāha lā yugayyiru mā biqawmin hattā yugayyirū mā bi’anfusihim.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Karena itu, bangsa yang ingin maju harus membangun manusia yang berkualitas. Kualitas tersebut tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan spiritual dan kesehatan jasmani.
Tiga Keunggulan yang Harus Dibangun
Dalam khutbahnya, beliau mengajak umat membangun tiga keunggulan utama.
Pertama, keunggulan aqliyah atau intelektual. Pendidikan dan penguasaan ilmu harus menjadi perhatian utama. Keluarga menjadi tempat pertama dalam membangun karakter dan semangat belajar generasi penerus.
Kedua, keunggulan ruhiyah atau spiritual. Kecerdasan tanpa iman dapat kehilangan arah. Karena itu, pembangunan manusia harus disertai kekuatan iman, ketenangan batin, kematangan akhlak, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Ketiga, keunggulan jasmani. Kesehatan tubuh juga merupakan bagian penting dari kualitas manusia. Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
Al-mu’minul-qawiyyu khairun wa ahabbu ilallāhi minal-mu’minidh-dha’īf.
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
Kekuatan tersebut mencakup kekuatan iman, ilmu, mental, akhlak, dan kemampuan menjaga kesehatan.
Doa untuk Indonesia
Di penghujung khutbah, KH. Khoirul Huda Basyir mengajak jamaah untuk senantiasa mendoakan bangsa dan negara Indonesia. Selain melakukan ikhtiar nyata, umat juga hendaknya memohon kepada Allah SWT agar Indonesia diberikan pemimpin yang adil, bijaksana, amanah, serta senantiasa memperhatikan kepentingan rakyat.
“Mari kita senantiasa mendoakan negeri kita tercinta, Indonesia. Semoga Allah SWT memberikan pemimpin-pemimpin yang adil, bijaksana, amanah, dan senantiasa berpihak kepada kepentingan rakyat,” pesannya.
Beliau juga berharap rakyat Indonesia diberikan kehidupan yang aman, makmur, sejahtera, sehat, serta penuh keberkahan. Indonesia diharapkan menjadi negeri yang baik, sebagaimana ungkapan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
“Ya Allah, jagalah Indonesia dan seluruh rakyatnya. Berikanlah petunjuk kepada para pemimpinnya, jadikan Indonesia negeri yang aman dan tenteram, serta karuniakan kepada rakyatnya keadilan, kemakmuran, dan keberkahan.”
Pesan khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa mengisi kemerdekaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh anak bangsa. Dari keluarga, masjid, lembaga pendidikan, lingkungan masyarakat hingga dunia profesional, setiap orang memiliki peran dalam memberikan kontribusi terbaik.
Kemerdekaan akan semakin bermakna apabila diisi oleh generasi yang beriman, berilmu, sehat, berakhlak, bekerja keras, menjaga persatuan, dan memberikan manfaat bagi bangsa serta umat.
Dari masjid, mari kita bangun umat. Dari keluarga, mari kita bangun generasi. Dari ilmu, mari kita bangun kualitas manusia. Dan dari iman serta takwa, mari kita bangun Indonesia yang lebih baik.
Semoga Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang baik, aman, adil, makmur, dan penuh keberkahan.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
(he)
Jurnalis Media Suara Mabes
