MediaSuaraMabes | Manggar, Beltim — Investasi budidaya udang modern senilai Rp30 miliar mulai beroperasi di Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Kepulauan Bangka Belitung. Mengusung teknologi ramah lingkungan berbasis Recirculating Aquaculture System (RAS), proyek ini diklaim menjadi yang pertama di Indonesia dengan konsep pengolahan limbah tanpa membuangnya ke laut.
Fasilitas budidaya tersebut mulai memasuki tahap penebaran benur atau post-larvae sebanyak 1,2 juta ekor yang didatangkan dari Lampung, Minggu (1/11/2026).
Proyek ini diharapkan menjadi percontohan pengembangan industri perikanan modern dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang investasi serta lapangan pekerjaan bagi masyarakat Belitung Timur.
Bupati Belitung Timur menyatakan dukungan penuh terhadap investasi tersebut sejak tahap awal perencanaan. Menurut dia, kemudahan perizinan dan kepastian tata ruang menjadi faktor penting untuk menarik investor ke daerah.
“Enggak terasa, waktu letakkan batu pertama kan Agustus tahun lalu. Ini sudah satu tahun lebih. Tadi sudah mulai ditaburkan benurnya. Produksinya semua saya lihat sudah bagus. Teknologi ini pertama di Indonesia dan sangat baik, jadi nanti orang bisa jadikan percontohan di Belitung Timur ke depan,” ujar Bupati.
Dia menegaskan, pemerintah daerah harus hadir memberikan kemudahan bagi investor, terutama dalam proses perizinan
“Pemerintah daerah itu harus dukung. Jangan sampai cuma mau bikin satu izin saja susahnya minta ampun. Begitu bilang mau investasi, hari ini ngomong, besok saya langsung suruh PUPR cek tata ruang cepat, supaya orang bisa investasi. Saya pasti akan dukung karena ini untuk kepentingan daerah dan kesejahteraan masyarakat kita,” katanya.
Investasi Berpotensi Tembus Rp600 Miliar
Manajemen proyek menyebutkan, investasi awal yang telah dikucurkan mencapai sekitar Rp30 miliar. Nilai tersebut diperkirakan meningkat hingga hampir Rp600 miliar dalam lima tahun, seiring pembangunan fasilitas pendukung dan pengembangan kawasan budidaya.
Pada tahap operasional saat ini, satu modul budidaya ditargetkan menghasilkan sekitar 50 ton udang per bulan.
“Benur yang kita tebar tadi 1,2 juta ekor. Dengan satu modul ini, target kita sekitar 50 ton per bulan. Untuk hasil pastinya, nanti tiga bulan kemudian baru bisa kita lihat hasilnya,” ungkap Manajer Proyek.
Selain fasilitas budidaya, pengembangan investasi juga mencakup pembangunan fasilitas pengolahan hasil panen menggunakan teknologi Individual Quick Freezing (IQF).
Dari sisi ketenagakerjaan, proyek tersebut telah menyerap puluhan pekerja lokal pada tahap konstruksi dan operasional awal. Jumlahnya diproyeksikan meningkat menjadi 300 hingga 400 orang apabila seluruh fasilitas dan modul budidaya telah dikembangkan.
Terapkan RAS, Limbah Diolah Menjadi Pupuk Organik
Keunggulan proyek ini terletak pada penerapan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS), yakni sistem budidaya dengan sirkulasi dan pengolahan air secara berulang.
Teknologi tersebut dirancang untuk menekan penggunaan air sekaligus meminimalkan risiko pencemaran lingkungan akibat limbah budidaya.
Manajer Proyek menjelaskan, kotoran udang dan sisa pakan tidak langsung dibuang ke perairan, melainkan melalui proses penyaringan dan pengolahan menjadi pupuk organik.
Selain itu, pengelola memanfaatkan rumput laut jenis Ulva lactuca untuk membantu menyerap nitrat sebelum air kembali digunakan dalam sistem budidaya.
“Sistem kita pakai resirkulasi (RAS). Kotoran udang dan sisa pakan difilter dan diproses menjadi pupuk organik, jadi tidak dibuang ke laut. Kita juga menanam rumput laut Ulva lactuca untuk menyerap nitrat sebelum airnya dialirkan kembali. Konsepnya benar-benar ramah lingkungan,” jelasnya.
Pupuk organik hasil pengolahan limbah tersebut nantinya berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian dan perkebunan kelapa sawit di wilayah sekitar.
Logistik Jadi Tantangan Pengembangan
Di balik besarnya potensi investasi, persoalan logistik masih menjadi salah satu hal yang perlu diselesaikan.
Pemerintah Kabupaten Belitung Timur bersama investor tengah mengupayakan pembahasan jalur distribusi dan pengiriman hasil panen agar produk udang dapat dipasarkan langsung ke pusat perdagangan, termasuk Jakarta.
Kelancaran distribusi dinilai penting untuk menjaga efisiensi biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing produk perikanan dari Belitung Timur.
Dengan investasi awal Rp30 miliar, target produksi 50 ton per bulan, serta proyeksi penyerapan hingga 400 tenaga kerja, proyek ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi daerah.
Pemerintah daerah dan investor kini dituntut memastikan pengembangan fasilitas, keberlanjutan lingkungan, serta kesiapan rantai distribusi berjalan seiring agar investasi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarak. (Ramli)
