MediaSuaraMabes | Sulut — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah foto menu MBG yang beredar menunjukkan sajian berupa nasi dengan lauk dalam porsi terbatas, sayuran, buah, serta makanan pendamping.Senin 7/9/2027.
Visual menu tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar telah memenuhi standar gizi yang ditetapkan pemerintah?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena MBG bukan sekadar program pemberian makanan gratis. Program ini dirancang sebagai intervensi pemenuhan gizi bagi penerima manfaat.
Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri menegaskan bahwa menu MBG harus disusun berdasarkan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan memperhatikan keseimbangan karbohidrat, protein, lemak, vitamin serta mineral.
BGN juga menjelaskan bahwa MBG dirancang untuk memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan gizi harian penerima manfaat, bukan seluruh kebutuhan gizi dalam satu hari.
Dalam foto yang diterima, terlihat beberapa menu antara lain nasi putih, telur, lauk olahan, sayuran, buah, tahu/tempe, serta susu pada salah satu paket.
Secara visual, sebagian menu tampak memiliki porsi lauk dan sayuran yang relatif terbatas dibandingkan porsi nasi.
Namun, apakah kondisi tersebut berarti menu tidak memenuhi standar gizi?
Belum tentu.
Untuk memastikan hal tersebut diperlukan data yang lebih objektif, seperti berat setiap bahan makanan, kandungan protein, energi, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral, serta standar porsi berdasarkan kelompok usia penerima manfaat.
Justru karena itu, masyarakat berhak mendapatkan penjelasan secara terbuka.
Kritik yang muncul bukan semata-mata mengenai bentuk makanan di dalam kotak.
Persoalan yang jauh lebih penting adalah apakah anggaran negara yang diperuntukkan bagi kepentingan gizi anak benar-benar memberikan manfaat maksimal kepada anak?
Jangan sampai program yang seharusnya menjadi investasi kesehatan dan masa depan generasi muda justru lebih banyak menguntungkan pihak pengelola dibandingkan penerima manfaat.
BGN sendiri pada Februari 2026 menjelaskan bahwa anggaran bahan makanan MBG berada pada kisaran Rp8.000–Rp10.000 per porsi, sementara anggaran keseluruhan per penerima manfaat mencakup komponen lainnya.
Karena itu, transparansi penggunaan anggaran menjadi sangat penting.
Masyarakat layak mengetahui berapa nilai bahan makanan yang benar-benar masuk ke dalam satu kotak MBG, berapa biaya pengolahan, distribusi, tenaga kerja, dan komponen lainnya.
Lebih Baik Uang Diberikan kepada Orang Tua?
Di tengah kritik terhadap kualitas dan porsi makanan, muncul pula gagasan agar pemerintah mempertimbangkan mekanisme bantuan langsung kepada orang tua untuk memenuhi menu anak masing-masing.
Gagasan ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan.
Di satu sisi, orang tua lebih mengetahui selera, kebutuhan dan kondisi anaknya. Mereka juga dapat memilih bahan makanan yang dianggap lebih bergizi dengan menyesuaikan makanan lokal yang tersedia.
Namun di sisi lain, apabila tujuan utama MBG adalah memastikan anak memperoleh asupan gizi minimum secara terukur, pemberian uang tunai juga membutuhkan mekanisme pengawasan agar benar-benar digunakan untuk kebutuhan makanan anak.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar “makanan atau uang”, melainkan bagaimana negara memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar menghasilkan manfaat gizi bagi anak.
Publik Minta Audit Menu MBG
Daripada terjadi perdebatan berdasarkan foto semata, pemerintah dan pengelola MBG sebaiknya membuka data secara transparan.
Setidaknya masyarakat perlu mengetahui :
1. Berapa gram nasi dalam setiap porsi?
2. Berapa gram dan jenis protein yang diberikan?
3. Berapa gram sayuran dan buah?
4. Berapa kandungan energi dan protein per porsi?
5. Berapa biaya bahan makanan sebenarnya?
6. Berapa biaya operasional dan distribusi?
7. Siapa pihak yang menjadi pengelola atau penyedia makanan?
8. Bagaimana pengawasan terhadap kualitas dan kuantitas makanan?
9. Apakah menu telah diverifikasi oleh ahli gizi?
10. Apakah porsi yang diberikan berbeda berdasarkan kelompok usia anak?
BGN sendiri menyatakan bahwa pelaksanaan MBG memiliki petunjuk teknis yang mencakup standar dapur, pengolahan makanan, keamanan pangan dan komposisi gizi.
Artinya, standar tersebut seharusnya dapat diuji dan diawasi secara publik.
MBG Harus Kembali kepada Tujuan Awalnya
Program sebesar MBG menggunakan sumber daya negara yang sangat besar. Karena itu, keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari berapa juta kotak makanan yang berhasil dibagikan.
Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah :
Apakah anak mendapatkan makanan yang cukup, aman dan bergizi sesuai kebutuhannya?
Jika ditemukan menu yang tidak sesuai standar, pemerintah harus melakukan evaluasi dan memberikan tindakan perbaikan.
Sebaliknya, apabila menu tersebut sebenarnya telah memenuhi standar gizi, pengelola juga perlu membuka data kandungan dan komposisinya agar masyarakat tidak hanya menilai dari tampilan kotak makanan.
Jangan sampai MBG hanya menjadi program yang “terlihat banyak” tetapi manfaat gizinya tidak maksimal.
Uang negara harus kembali kepada tujuan utamanya: anak-anak Indonesia mendapatkan makanan yang benar-benar bergizi, bukan sekadar makanan yang membuat kenyang.
Amir Pontoh | Wakorwil Id Timur.
Cahyanto Amos | Kaperwil Sulawesi Utara.
