MediaSuaraMabes | Dumai — Sejarah modern Kota Dumai tidak dapat dilepaskan dari keberadaan industri minyak dan Kilang Putri Tujuh. Pembangunan kilang yang dimulai pada April 1969 menjadi salah satu tonggak penting yang mendorong perubahan Dumai dari kawasan pesisir menjadi kota industri dan pelabuhan yang memiliki posisi strategis dalam sistem energi Indonesia.
Keputusan membangun kilang di Dumai tidak terlepas dari kondisi geografis dan perkembangan industri minyak di Riau. Kawasan ini memiliki sumber minyak seperti Minas dan Duri, sementara Dumai berada di pesisir timur Sumatera, di tepi Selat Rupat dan memiliki akses terhadap jalur pelayaran Selat Malaka.
Kondisi tersebut membuat Dumai dinilai strategis untuk kegiatan pengolahan dan distribusi energi. Minyak mentah dapat dikirim menuju fasilitas pengolahan, sementara produk hasil kilang dapat didistribusikan melalui jaringan transportasi laut.
Berawal pada 1969
Pembangunan Pertamina Unit Pengolahan II Dumai dimulai pada April 1969 melalui konsep turn-key project antara Pertamina dan Far East Sumitomo dari Jepang. Pekerjaan teknis melibatkan Ishikawajima-Harima Heavy Industries (IHI), sedangkan Taisei Construction mengerjakan konstruksi dan fasilitas sipil pendukung.
Setelah melalui proses pembangunan, unit pertama kilang memiliki kapasitas awal sekitar 100.000 barel per hari dan dirancang terutama untuk mengolah Sumatera Light Crude.
Tonggak sejarah terjadi pada 8 September 1971, ketika Presiden Soeharto meresmikan Kilang Minyak Putri Tujuh Dumai. Nama Putri Tujuh diambil dari cerita rakyat Melayu mengenai tujuh putri.
Sejak saat itu, nama Putri Tujuh tidak hanya menjadi identitas kilang, tetapi juga melekat pada ruang kota. Salah satunya melalui Jalan Putri Tujuh yang berada di sekitar kompleks kilang.
Berkembang melalui ekspansi
Pertumbuhan kebutuhan bahan bakar kemudian mendorong pengembangan fasilitas kilang. Pada 1972 dilakukan sejumlah pengembangan awal. Memasuki dekade 1980-an, Pertamina melaksanakan Proyek Perluasan Kilang Dumai (PPKD).
Pada 1980, Pertamina menandatangani perjanjian lisensi dan proses desain dengan Universal Oil Products (UOP) dari Amerika Serikat. Selanjutnya, pada 27 April 1981, kontrak PPKD ditandatangani dengan konsorsium Technicas Reunidas–Centunion dari Spanyol sebagai kontraktor utama.
Proyek perluasan tersebut mencakup sejumlah fasilitas proses, antara lain High Vacuum Unit, Delayed Coker Unit, Hydrocracker, Hydrogen Plant, Naphtha Hydrotreater, Platformer, Amine & LPG Recovery serta fasilitas utilitas dan off-site.
Daelim dan Hyundai dari Korea Selatan juga terlibat dalam sejumlah pekerjaan proyek. Kompleks perluasan kemudian selesai dan mulai memasuki tahap operasi pada 1984.
Perkembangan berikutnya mencakup berbagai revamp dan debottlenecking. Pada 1992, kapasitas CDU ditingkatkan dari sekitar 100.000 menjadi 120.000 barel per hari.
Kapasitas RU II mencapai 170 ribu barel per hari
Dalam perkembangannya, RU II mencakup Kilang Dumai/Putri Tujuh sekitar 120.000 barel per hari dan Kilang Sungai Pakning sekitar 50.000 barel per hari. Dengan demikian, kapasitas gabungan RU II mencapai sekitar 170.000 barel per hari.
Angka tersebut merupakan kapasitas desain, bukan otomatis menunjukkan realisasi produksi setiap hari. Operasional kilang dapat dipengaruhi antara lain oleh kegiatan pemeliharaan, turnaround, ketersediaan minyak mentah, kondisi unit dan faktor operasional lainnya.
Berdasarkan laporan tahunan PT Kilang Pertamina Internasional 2024 yang disebut dalam naskah sumber, RU II Dumai tercatat memiliki kapasitas 170 MBPOD dengan Nelson Complexity Index (NCI) 7,6.
Lebih dari sekadar kilang
Lebih dari lima dekade setelah mulai beroperasi, Putri Tujuh tidak hanya menjadi bagian dari sejarah industri minyak Indonesia, tetapi juga berkaitan erat dengan perkembangan Kota Dumai.
Kehadiran industri membutuhkan tenaga kerja, perumahan, jalan, pelabuhan, transportasi, sekolah dan berbagai pelayanan pendukung. Proses tersebut ikut mendorong pertumbuhan kawasan perkotaan Dumai.
Dari sisi teknologi, perjalanan Putri Tujuh juga mencerminkan kerja sama internasional. Jepang terlibat dalam pembangunan generasi awal, kemudian teknologi dan perusahaan dari Amerika Serikat, Spanyol serta Korea Selatan ikut hadir dalam tahapan pengembangan berikutnya.
Kini tantangan kilang tidak hanya berkaitan dengan kapasitas, tetapi juga keandalan, efisiensi, keselamatan, integritas aset dan tuntutan lingkungan. Usia fasilitas memang penting, tetapi penilaian kondisi kilang tidak cukup hanya berdasarkan tahun pembangunannya.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana kondisi setiap aset kritis, sejauh mana teknologi telah diperbarui, serta bagaimana sistem keselamatan dan pemeliharaannya dipastikan tetap memenuhi kebutuhan operasi.
Putri Tujuh dengan demikian bukan semata cerita tentang minyak. Ia merupakan bagian dari perjalanan Dumai, perkembangan teknologi, pembangunan industri dan ketahanan energi Indonesia.
Penulis: Indra Gunawan, ST., M.Ec.Dev. — Peneliti pada Riset Inovasi Daerah Indonesia (RiDI).
