MediaSuaraMabes | Tilatang Kamang, Agam — Berdiri sejak 1898, Pasar Pekan Kamis dahulu Balai Tilatang, lalu Pasar Serikat Tilatang bukan sekadar bangunan batu. Ia adalah nadi perdagangan masyarakat Minangkabau utara, saksi hidup peradaban lebih dari satu abad, tercatat dalam Laporan Administrasi Karesidenan Sumatera Barat 1910–1920, kajian Prof. Dr. Asnan Gustami, serta penelitian Universitas Andalas (2018).
Namun seiring waktu, pasar bersejarah ini perlahan berubah kumuh dan semrawut. Drainase tersumbat, lapak tak tertata, fasilitas kurang memadai — ancaman nyata bagi martabat warisan leluhur.
Di titik inilah, Pengurus Pasar Rahman dan Firdaus, Direktur BUMNag Koto Tangah, bergerak dengan tangan dingin dan visi jernih. Tanpa menghapus jati diri pasar, keduanya mengawali perubahan dengan musyawarah, mendengarkan aspirasi pedagang, menyusun penataan yang adil dan tetap menghormati karakter tradisional.
Kini, wajah baru mulai tampak nyata: pasar yang dulu semrawut bertransformasi menjadi rapi, bersih, dan tertata. Drainase berfungsi lancar, setiap lapak tertata layak, fasilitas umum — toilet bersih, tempat ibadah yang nyaman — kini tersedia dan dapat dinikmati semua.
“Perubahan ini bukan soal bangunan lebih bagus, melainkan peningkatan martabat manusia yang beraktivitas di sini,” tegas mereka.
Tentu, perubahan tak tanpa tantangan. Sebagian pedagang belum sepenuhnya mematuhi aturan penataan. Namun Rahman dan Firdaus tetap konsisten: pembangunan fisik saja tak cukup — kesadaran dan kebersamaan adalah kunci agar kemajuan ini abadi.
Warisan leluhur bukan benda untuk dibiarkan usang, melainkan amanah untuk dijaga, dikembangkan, dan diperindah.
Berkat sinergi Pengurus Pasar Rahman dan Firdaus, Direktur BUMNag Koto Tangah, Pasar Pekan Kamis kini berdiri lebih gagah — tetap memegang erat sejarah, namun menatap masa depan dengan wajah yang lebih bersahabat, layak, dan penuh harapan. Sebagaimana kata para ahli: pasar tradisional adalah jantung nagari — dan jantung ini kini berdetak lebih kuat.
(Fk/YamanLbs)
